Posted January 20, 2013 by wisata in SERBA-SERBI
 
 

Pasar Kembang Tidak Sekedar Menjual Kembang

sarkem
sarkem

PENJUAL kembang dalam pengertian yang sesungguhnya memang sudah tidak ada lagi. Akan tetapi, sebutan Pasar Kembang hingga hari ini tetap melekat dan tak pernah hilang di tempat itu serta kawasan sekitarnya.

Sejarahnya:
Pasar Kembang atau sarkem berdiri sejak 1818. Itu artinya, sejak zaman penjajahan Belanda sudah ada. Konon juga, keberadaan “lembaga” ini juga mendapat “restu” pemerintah belanda dengan harapan, jika seluruh buruh pembuat jalan kereta api sudah menerima upah dari hasil keringatnya, maka diharapkan mereka menghabiskan gajinya ke “lembaga” yang diciptakan oleh pemerintah Belanda.

Sehingga dari sini perputaran uang tetap kembali lagi ke pemerintah Belanda di Yogyakarta. Di ‘Lembaga” ini ada pungutan-pungutan sebagai “retribusi”, tentu saja hal ini ada korelasi kuasa antara pelaku, pemerintah, dan pemungut retribusi kelas swasta itu.

Menarik untuk menyimak dan mengkaji apa yang terjadi selama bertahun-tahun dalam aktivitas pelacuran di Pasar Kembang itu. Aktivitas pelacuran yang kemudian melembaga dan seakan-akan telah menjadi warna dan perilaku sosial di Pasar Kembang itu ternyata telah menciptakan suatu keterikatan kerja atau keterkaitan masing-masing pihak yang terlibat dan saling terkait di dalamnya.

Di dalam melakukan aktivitasnya, para PSK tidak bisa bekerja sendiri. Mereka tetap masih menggantungkan kelihaian, kecekatan, kemampuan, keberadaan dan kekuasaan para mucikari dan calo.Para pekerja seks komersial atau pelacur-pelacur di dalamnya merupakan perempuan-perempuan dalam kategori usia produktif yang menyediakan dirinya untuk tempat pelampiasan nafsu seks lelaki dengan menerima imbalan sejumlah uang. Dalam keseimbangan kerja itu, mereka hanya berfungsi melayani kebutuhan seks ‘tamu’ dan sekaligus menarik imbalannya.

Komentar Anda

komentar facebook


wisata

 
Wisata Piknik ke Jogja Baca dulu JogjaPicnic